Antologi ini ditulis sebagai cara untuk “menguras” kesedihan yang masih tersisa. Lewat bahasa yang puitis namun tetap ringan, Adhan Akram menghadirkan puisi-puisi yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari, baik dalam ranah personal maupun komunal. Puisinya terasa sederhana saat dibaca, tapi perlahan turut memantik rekaman lama yang sempat tersimpan di kepala untuk berjalan beriringan…